melbournebyfoot.com – Buttermilk tradisional adalah cairan susu yang tersisa setelah proses pembuatan mentega dari krim susu. Berbeda dengan buttermilk modern (cultured buttermilk) yang dibuat dengan menambahkan bakteri fermentasi ke susu rendah lemak, buttermilk tradisional terbentuk secara alami dan kaya akan probiotik alami. Minuman ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner di berbagai belahan dunia selama berabad-abad.
Perbedaan Buttermilk Tradisional dan Cultured
- Buttermilk Tradisional: Cairan sisa churning butter. Rasanya asam ringan, teksturnya lebih encer, dan mengandung bakteri baik alami yang berkembang selama proses.
- Cultured Buttermilk: Versi modern yang lebih kental dan konsisten, sering digunakan untuk baking. Keduanya bermanfaat, tetapi tradisional dianggap lebih “asli” dan penuh probiotik hidup.
Sejarah dan Tradisi
Buttermilk tradisional berasal dari praktik pembuatan mentega rumahan di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Di India, dikenal sebagai Chaas atau Lassi (versi encer), sering diminum dingin untuk menyegarkan tubuh di cuaca panas. Di negara Arab, buttermilk dingin populer saat Ramadan. Di Indonesia, konsep serupa dikenal melalui produk fermentasi susu tradisional, meski buttermilk murni lebih sering digunakan dalam resep baking modern.
Kandungan Nutrisi
Buttermilk tradisional kaya akan:
- Probiotik (Lactobacillus dan bakteri asam laktat lainnya)
- Kalsium, fosfor, dan vitamin B (termasuk riboflavin)
- Protein berkualitas tinggi
- Rendah lemak dan kalori
Manfaat Kesehatan
- Kesehatan Pencernaan — Probiotik membantu menyeimbangkan mikrobioma usus, mengatasi sembelit, diare, dan sindrom iritasi usus besar.
- Memperkuat Tulang — Kandungan kalsium dan fosfor tinggi mendukung kepadatan tulang.
- Menurunkan Tekanan Darah & Kolesterol — Asam laktat dan probiotik berkontribusi pada kesehatan jantung.
- Mudah Dicerna — Cocok untuk orang dengan intoleransi laktosa ringan karena bakteri telah memecah sebagian laktosa.
- Menyegarkan Tubuh — Efek pendingin alami, bagus diminum saat cuaca panas atau setelah makan pedas.
Cara Membuat Buttermilk Tradisional di Rumah
Bahan:
- Krim susu segar (atau full cream milk yang didiamkan)
- Pengaduk/churner (bisa manual atau mixer)
Cara:
- Kocok krim susu hingga memisah menjadi mentega dan cairan.
- Pisahkan mentega, sisanya adalah buttermilk tradisional.
- Simpan di kulkas, tahan hingga 1-2 minggu.
Versi Sederhana (Cultured Homemade): Campur 1 gelas susu dengan 1 sdm cuka apel atau air lemon, diamkan 10 menit hingga mengental.
Penggunaan dalam Kuliner
- Minuman: Langsung diminum dingin, dicampur garam, jintan, atau daun mint.
- Baking: Membuat pancake, cake, biscuit, dan roti lebih moist & fluffy.
- Masakan: Marinasi ayam goreng, saus salad, atau sup.
- Tradisional: Dicampur dengan roti jagung (cornbread) di Amerika Selatan.
Tips
- Pilih susu segar berkualitas untuk hasil terbaik.
- Hindari memanaskan terlalu tinggi agar probiotik tidak mati.
- Mulai dengan porsi kecil jika perut sensitif.
Buttermilk tradisional adalah contoh sempurna bagaimana makanan sederhana dari proses tradisional dapat memberikan manfaat kesehatan yang luar biasa. Di era modern ini, kembali ke bahan alami seperti buttermilk bisa menjadi langkah mudah menjaga kesehatan usus dan tubuh secara keseluruhan.









Leave a Reply